top of page

Jakarta, 8 November 2022

Updated: Nov 17, 2022

Aku mengunjungi ibu kota untuk sebuah pekerjaan. Beberapa hari sebelumnya aku menghubungi Fredy Wijaya dan memintanya untuk menemaniku berkeliling Jakarta dari sudut pandangnya. (Akun IGnya @sudutpandangfredy). Ko Fredy sudah tinggal di Jakarta lebih dari 10 tahun. Kira-kira tahun 2014, dia memutuskan untuk berhenti berprofesi sebagai fotografer full-time dan tahun 2022 ini dia come back! Aku berpikir, sembari kita jalan-jalan mungkin aku bisa mendapat banyak insight tentang karir dan fotografi.

Dia adalah seorang fotografer, ayah, pengerajin kulit, seorang seniman. Beliau adalah banyak hal. Sekitar tahun 2012/2013 yang lalu, saat aku berusia 19 tahun, Aku ingat melihat dia membuka kelas private untuk fotografer yang ingin belajar. Singkat cerita, aku kontak nomornya dan bertanya mengenai biaya dan detail lainnya. Namun karena aku waktu itu tidak punya biaya tiket untuk ke Jakarta dan kelasnya, aku urungkan niatku. Sampai kira-kira tidak lama setelahnya seorang teman menelponku dan bilang, “Sun ini aku lagi nongkrong ama ko Fred, kamu katanya mau ketemu? Gamau nyusul?”. Tanpa berpikir dua kali, aku berangkat!

Kita berangkat dari rumah ko Fred menuju stasiun KRL terdekat. Tentu saja dengan membawa kamera! Ini adalah pertama kalinya aku menyusuri jalan-jalan Jakarta dengan kakiku. Melihat dari dekat kehidupan ibu kota. Menaiki rel keretanya, roda busnya, dan menyusuri lorong-lorong MRTnya.

Highlight dari jalan-jalan kali ini adalah Kota Tua Jakarta. Seperti yang bisa kalian bayangkan, di Kota Tua banyak manusia dari berbagai macam latar belakang usia, agama, ras bahkan negara berkumpul untuk menikmati sedikit dari keindahan dan kejayaan masa kolonial Belanda.

Keluar dari stasiun KRL, aku melihat seorang bapak-bapak sedang menghitung uang kertas yang ia miliki dan lalu menyimpannya ke sakunya. Mungkin ia sedang berpikir tentang harga bbm yang naik, ah tidak mungkin dia kan naik sepeda kayuh. Ah sudahlah, kita sebagai manusia hanya suka menebak saja apa isi kepala dan hati orang lain. Yang tahu kan yang menjalaninya sendiri, batinku.

Aku menemukan sekumpulan wanita muda sedang duduk di pinggir toko es krim, mereka terlihat kebingungan karena es krimnya meleleh. Mungkin karena udara Jakarta yang berpolusi dan sedikit hangat sore itu.

Aku juga menemukan sepasang kekasih yang sedang duduk diatas batu bulat besar sedang duduk berhadapan, terlihat serius memotong kuku. Tak jauh dari sana aku melihat lebah yang terperangkap bungkusan plastik buah mangga, kucing-kucing yang sedang beristirahat dengan tenang seolah dunia disekitarnya diam.

Musisi jalanan bernyanyi, anak-anak berseragam sekolah menaiki sepeda tua dengan teman-temannya, atau hanya sekedar duduk dengan smartphonenya. Semuanya terlihat bahagia dan berkeringat hebat.

Selepas dari Kota Tua, kami menuju halte bus untuk menuju ke pusat kota. Di pusat kota, aku melihat banyak orang yang berteriak “Es! Es!” Seketika aku mendongakan kepalaku, kukira di Jakarta sering hujan es karena pemanasan global. Aku tersadar, rupanya mereka adalah para Starling (Starbucks keliling) menjajakan es kopi sachet untuk orang-orang yang bekerja di daerah sana.


Perjalanan hari ini ditutup dengan makan malam di Blok M. Aku melihat Joshua Suherman sedang makan malam bersama istrinya. Aku ingin menyapanya karena ia adalah seorang teman lama dari Surabaya. Ah tapi mana mungkin ingat, kan kita teman playgroup?

Aku melihatnya membawa kamera analog. Mungkin mereka habis berfoto-foto ootd di bawah jembatan MRT.


Dari street photography lahir kecintaanku terhadap photography dan dari sana juga lahir pemahamanku tentang manusia dan juga kehidupannya.

Terima kasih ko Fred dan Jakarta!



Chesoen Tan



NB : Aku ada mengambil beberapa video behind the scene menggunakan kamera insta360 baruku. Nanti kalau sudah ada waktu untuk ngedit videonya aku update lagi ya! ;D





Silahkan cek video behind the scene dari foto-foto diatas. Selamat menikmati!



67 views6 comments

Recent Posts

See All

Hi pa!

65:24

bottom of page